periophthalmus_____

20 August 2005

60 Tahun Indonesia Memerdekakan Diri: Tak Ada Tempat Untuk Berkehidupan

Filed under: komunitas, alam_nyata - timpakul @ 9:21 am

60 tahun yang lalu bangsa Indonesia melalui pemimpinnya telah menyatakan memerdekakan dirinya. Selama ini pula rakyat Indonesia masih terpuruk dalam lingkaran kemiskinan. Kesejahteraan, hanyalah sebait kata yang tak pernah terlihat jelas wujud nyatanya. Hingga hari ini, semakin banyak anak negeri yang harus berjuang demi mempertahankan hidupnya, karena terlalu banyak tanah negeri yang dikuasai oleh segelintir orang.

Kekayaan Alam, Milik Siapa?

Sejak bertahun-tahun di bangku sekolah, selalu disampaikan bahwa Indonesia adalah untaian jamrud khatulistiwa. Begitu banyak kekayaan alam yang menghiasi negeri ini. Saat ini pula, begitu banyak rakyat negeri ini yang sangat jauh dari kata sejahtera.

Kekayaan alam negeri ini, hingga hari ini masih dikuasai bukan oleh Indonesia. Investasi asing menguasai hampir seluruh pertambangan besar dan perkebunan besar di Indonesia. Perusahaan kehutanan, hanya dimiliki oleh segelintir kerabat penguasa. Kawasan konservasi dikelola oleh lembaga asing.

Usaha-usaha pengelolaan kekayaan alam oleh rakyat selalu dibenturkan dengan kebijakan dan peraturan, yang pada akhirnya meminggirkan rakyat dari wilayah kelolanya. Hingga akhirnya sebagian besar rakyat hanya bisa gigit jari disaat emas dikeruk, minyak disedot, pepohonan ditumbangkan, hingga jasa wisata.

Bahkan sangat mengenaskan, melihat sebuah situs di dunia maya, sebuah perusahaan properti di Eropa sedang menawarkan penjualan 7 pulau di Kepulauan Karimunjawa. Selain beberapa pulau yang saat ini telah dikuasai oleh pengusaha wisata asing. Bukan tidak mungkin setelah Sipadan-Ligitan, akan banyak pulau di Indonesia yang digadaikan.

Di saat Indonesia dan Malaysia saling berebut blok Ambalat, yang membangkitkan semangat patriotisme anak negeri ini, senyatanya yang akan memperoleh kekayaan alam di blok tersebut adalah perusahaan asing milik negara utara. Kembali para patriot negeri harus gigit jari.

Wilayah Indonesia, Milik Siapa?

Indonesia memiliki luas 192 juta hektar, hampir dua pertiga-nya dikuasai oleh segelintir orang. Sebagian bahkan dikuasai oleh bukan Indonesia. Perusahan tambang, perusahaan perkebunan, perusahaan kehutanan hingga perusahaan wisata, bertebaran di beragai wilayah Indonesia yang akhirnya menghilangkan wilayah-wilayah kelola rakyat. Belum lagi kawasan konservasi, yang mana hampir keseluruhannya dikelola oleh lembaga asing yang mengatasnamakan konservasi.

Begitu banyaknya pengangguran di negeri ini, bukan hanya disebabkan oleh karena tidak adanya kesempatan bekerja. Pengangguran di negeri ini lebih dikarenakan tak ada lagi tanah untuk dijadikan sawah, ladang ataupun kebun. Pengangguran di negeri ini juga dikarenakan tidak pernah meningkatnya harga komoditi pertanian dan perkebunan rakyat karena tekanan dari pasar dan pemodal.

Kalimantan Timur yang memiliki luas 21 juta hektar misalnya, ketika dilihat pada peta konsesi kehutanan (HPH-HTI), peta perkebunan, peta pertambangan, ditambah dengan kawasan lindung dan konservasi, tak ada lagi wilayah yang tersisa bagi warganya. Kesemuanya sudah terbagi habis, termasuk hingga wilayah pantai dan kepulauan.

Tak Ada Lahan, Dimana Harus Menanam?

Begitu luasnya wilayah yang dikuasai oleh segelintir pihak (pemerintah dan pengusaha), telah menjadikan rakyat tak ada lagi tempat untuk bercocok tanam dan mencari kehidupan. Belum terlupakan disaat petani di Desa Kertabuana harus menyingkir disaat perusahaan tambang batu bara mengeruk batu bara di desa mereka. Juga ketika nelayan di kepulauan Komodo dan kepulauan Wakatobi tak lagi dapat mengail ikan karena kawasan tersebut adalah kawasan konservasi katanya. Demikian pula disaat petani kopi di Manggarai harus berada di hotel prodeo karena berladang di kawasan lindung. Walau juga ketika perusahaan perkebunan karet besar di Bulukumba telah menghilangkan kebun-kebun masyarakat adat Kajang.

Tak ada tempat berkehidupan. Inilah kondisi pemerpurukan rakyat Indonesia. Hal ini pun masih harus ditambah dengan semakin banyaknya limbah disebarkan oleh perusahaan-perusahaan besar di tanah negeri ini. Belum hilang catatan tentang limbah arsen yang ditebar PT Newmont di Buyat, limbah lantung di Teluk Balikpapan dan beberapa kawasan perairan Indonesia lainnya, hingga buangan batuan PT Indocement yang menyebabkan jaring nelayan Pulau Laut menjadi rusak.

Belum termasuk begitu banyaknya resor (tempat wisata di pantai) yang dimiliki oleh pengusaha asing, yang menyebabkan dilarangnya nelayan menjala ikan di wilayah laut dangkal dekat resor tersebut. Demikian pula di wilayah-wilayah pertambangan migas, yang telah membuat nelayan harus semakin jauh melaut, sementara harga bahan bakar minyak kian melambung tinggi.

Kembalikan Kedaulatan Rakyat, Bila Benar Indonesia Telah Merdeka!

Kedaulatan rakyat yang telah dirampas oleh pemerintah dan pengusaha, sudah selayaknya dikembalikan kepada rakyat yang telah sekian lama berkehidupan di wilayah kelolanya. Penguasaan kawasan oleh kepentingan pemodal dan lembaga konservasi internasional, sudah saatnya tidak lagi diberlakukan di Indonesia.

Kesejahteraan dapat kembali hadir di bumi pertiwi ini, bilamana wilayah kelola rakyat telah kembali ke tangan rakyat. Pengangguran akan serta merta menurun jumlahnya, disaat rakyat memiliki kesempatan kembali menggali kehidupan di tanah air tercita ini. Haruskah rakyat menjadi tidak merdeka di negara yang telah memerdekakan dirinya 60 tahun yang lalu ini?

[sempur-bogor, 050817]

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://timpakul.blogsome.com/2005/08/20/60-tahun-indonesia-memerdekakan-diri-tak-ada-tempat-untuk-berkehidupan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here